![]() |
Diantara kita sebagai wanita memang bersedia menjadi wanita simpanan ini kenyataannya ada seorang wanita mengaku bahagia menjadi istri simpanan. Kenapa tidak? “Banyak keuntungannya” katanya di bawah ini. Wanita ini menggunakan pendekatan rasional dalam perkawinan. Memang sih, kalau sudah menggunakan perasaan, selalu jadi repot, ribet dan ruwet. wanita ini toh bisa lebih menonjolkan rasionya ketimbang rasanya, sesuatu yang jarang terjadi pada kebanyakan Wanita. Hidup memang pilihan. Kalau resiko dari pilihan itu diterima dengan lapang dada dan konsisten, ya jadi tidak ada persoalan, seperti dialami wanita ini. Menjadi istri simpanan adalah sah dan jauh lebih baik daripada berzinah atau menjadi pelacur. Sekarang ini wanita dewasa (di atas umur 30 tahun) yang belum menikah berlipat-lipat jumlahnya daripada laki-laki bujangan, banyak yanqg cantik-cantik lagi. Gimana tuh mengatasinya? Secara rasional, pemecahannya ya menjadi istri kedua, ketiga, keempat atau istri simpanan bila menjadi istri sah tidak mau. Menjadi istri kedua atau ketiga adalah alternatif mengatasi stress daripada tidak menikah dan untuk menghindari perzinahan dan pelacuran yang mewabah. Memilih tidak menikah, selain tidak akan diakui sebagai umat Nabi adalah sebuah kebodohan yang sangat. Minimal ia memubadzirkan diri tidak merasakan “surga dunia” yang disediakan Tuhan. Padahal hidup cuma sekali. Atau melacur hidup bebas saja daripada tertindas oleh oleh laki-laki dan “terhina sebagai wanita”? Silahkan. Tunggu saja akibatnya di dunia ini apalagi di akhirat. Jawaban rasionalnya hanya itu tadi karena menyangkut jumlah yang menyangkut hitungan-hitungan. Bila setiap laki-laki di Indonesia harus beristri satu, akan ada jutaan perempuan tidak bisa menikah. Kondisi ini persis sama dengan di Amerika Serikat dimana jumlah perempuan juga lebih banyak. Perempuan hebat kan ingin segalanya rasional, kalau mau rasional ya harus konsisten.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar